PBB Gelar Rapat Darurat, Serukan Gencatan Senjata di Tengah Eskalasi Iran-AS
Media Antusias Publik.Com
New York – Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar rapat darurat Dewan Keamanan pada 28 Februari 2026 menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Rapat ini diminta Rusia dan China dengan alasan adanya “aksi agresi bersenjata tanpa provokasi” terhadap Republik Islam Iran.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam rapat tersebut mengutuk keras eskalasi militer yang terjadi. Ia menyatakan bahwa penggunaan kekuatan oleh AS, Israel, serta balasan Iran ke pangkalan AS di kawasan Teluk, telah merusak perdamaian dan keamanan internasional.
“Saya menyerukan penghentian permusuhan dan de-eskalasi segera. Jika tidak, risiko konflik regional yang lebih luas dengan konsekuensi berat bagi warga sipil tidak dapat dihindari,” tegas Guterres.
Guterres juga menyayangkan gagalnya jalur diplomasi. Menurutnya, serangan terjadi saat putaran ketiga pembicaraan tidak langsung antara Tehran dan Washington yang dimediasi Oman baru saja berlangsung, dan persiapan pertemuan lanjutan di Wina sudah disiapkan.
*Belum Ada Resolusi Mengikat:
Hingga kini Dewan Keamanan belum mengesahkan resolusi apapun. AS dan Bahrain mengajukan draf resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan dan aktivitas penambangan di Selat Hormuz, namun draf tersebut dipastikan akan diveto oleh China dan Rusia.
China dan Rusia menilai permintaan AS untuk memulihkan sanksi PBB terhadap Iran tidak memiliki dasar hukum, karena AS sendiri telah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA.
*Ahli HAM PBB Kecam Serangan AS :
Terpisah, para ahli Hak Asasi Manusia PBB di bawah OHCHR juga mengutuk serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Mereka menyebut serangan tersebut melanggar larangan penggunaan kekuatan agresif dalam Pasal 2(4) Piagam PBB dan berpotensi menjadi kejahatan agresi internasional.
Fokus PBB: De-eskalasi dan Diplomasi
Saat ini PBB memusatkan upaya pada upaya de-eskalasi, perlindungan warga sipil, dan mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan. Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk menyatakan, “Bom dan rudal bukanlah cara untuk menyelesaikan perbedaan.”
Siber : Media Antusias Publik.Com
Editor : Muhammad Muhlis
Sumber : Pertemuan Darurat Dewan Keamanan PBB 28 Feb 2026,Reuters melaporkan Dewan Keamanan menggelar rapat.
